Oleh: akbarzainudin | April 14, 2010

Bisnis Brownies BAJU

 

 

Aske (Baju Pink, 2 dari kiri), pemilik Brownies Baju dan kawan-kawan TDA Jakarta Barat

Kalau saya berkunjung ke suatu tempat atau pameran, saya biasanya memang mencari sesuatu yang bagi saya aneh, unik, atau menarik. Dan salah satu yang menarik di Pameran Wirausaha Komunitas TDA minggu kemarin adalah apa yang disajikan oleh ASKE, wanita muda yang menggeluti bisnis Brownies BAJU.

Saya langsung bertanya: ini jualan brownies apa jualan baju? Setelah ngobrol, ternyata jualan brownies. Dan baju adalah singkatan dari Bakar Keju. Menurut saya, penamaan yang menarik juga karena membuat orang bertanya-tanya dan penasaran.

Inget brownies, tentu saja saya teringat brownies kukus Amanda yang sangat terkenal dari Bandung. Dengan eksposur yang sangat luas, Amanda memang lebih menancap di mata konsumen. Namun demikian, menarik apa yang dijawab Aske saat saya bertanya apa tidak takut bersaing dengan Amanda?

Aske menjawab, setiap produk mempunyai konsumen sendiri-sendiri. Karena makanan adalah soal rasa, taste. Kalau produk kita mempunyai rasa unik yang tidak dimiliki oleh produk lain, orang akan terus kembali membeli makanan kita. Wah, ini jawaban yang sungguh menarik yang keluar langsung dari produsen makanan.

Bisa dimengerti bahwa dalam bisnis makanan, soal rasa menjadi keunggulan bersaing yang dijaga habis-habisan resepnya agar tidak dicuri oleh perusahaan lain. Saya jadi teringat film Spongebob di mana resep “Krabby Patty” menjadi andalan restoran cepat saji “Krusty Krab”

yang dimiliki oleh Eugene H. Krabs (Mr. Krabs), yang sangat terkenal seantero kota Bikini Bottom. Resep inilah yang selalu dicoba dicuri oleh Sheldon J. Plankton (Plankton), pemilik restoran cepat saji juga yang bernama The Chum Bucket yang letaknya berseberangan dengan Krusty Krab. Mati-matian Plankton berusaha mencuri resep, begitu juga Mr. Krabs bertahan mati-matian menjaga resep Krabby Patty. Serial yang dibuat Stephen Hillenburg, animator dan ahli biologi laut ini memang dominan mengetengahkan persaingan dua restoran cepat saji ini.

Kembali ke Brownies BAJU, salah satu yang menarik adalah dengan resep dan cara masak yang benar, brownies ini bisa bertahan hingga SATU BULAN. Menurut saya, ini menjadi menarik karena jika dikirimkan keluar daerah bisa bertahan hingga cukup lama. Dan hebatnya, brownies itu dibuat TANPA PENGAWET DAN TANPA PEWARNA. Karena itulah, brownies baju tidak hanya dijual di sekitar Jakarta sebagai tempat produksi, tetapi juga dikirimkan ke berbagai daerah di luar Jakarta.

Selain brownies, satu lagi produk menarik dari Aske adalah kue untuk diet, diet cookies. Kue ini cocok juga untuk penderita diabetes karena rendah gula, dan juga untuk penderita autis.

Diet Cookies (Dipegang Penulis), cocok untuk diet, penderita diabetes, dan autis.

Jadi, saya dapat pelajaran bagus dari Aske, bahwa akan selalu ada ruang buat kita kalau kita mau sedikit kreatif untuk bersaing dengan produk-produk lain, walaupun saingan kita adalah produk yang sudah terkenal. Karena Indonesia adalah pasar yang sangat luas, dengan lebih dari 200 juta orang, jika kita mampu memenuhi sedikit saja kebutuhan mereka, tentu produk kita akan dicari orang.

Aha, ada yang lupa saya tanyakan: Apa bedanya brownies itu dikukus dan dibakar? Ah, nanti saya tanya deh ke Aske di browniesbaju@gmail.com.

Salam Man Jadda Wajada,

BAHAN BACAAN
Buku Man Jadda Wajada, Penerbit Gramedia, Halaman 143-146.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: