Oleh: akbarzainudin | April 12, 2010

Cireng Bandung, Cireng Cinta

 

Cireng Bandung Naik Kelas

Cireng Bandung Naik Kelas

 

Bagi Anda yang berdomisili terutama di daerah Bandung, tentu saja kenal dengan Cireng, makanan tradisional yang dijual murah, dulunya hanya untuk jajanan anak-anak SD. Namun hebatnya, insting bisnis orang-orang Bandung ini begitu kreatif hingga sekarang Cireng ini naik kelas menjadi bisnis yang diwaralabakan. Jadi, jangan pernah remehkan bisnis cireng ini.

Saya cari di wikipedia, dan keterangan tentang Cireng ini adalah sebagai berikut: Cireng (singkatan dari aci goreng, bahasa Sunda untuk ‘tepung kanji goreng’) adalah makanan ringan yang berasal dari daerah Sunda yang dibuat dengan cara menggoreng campuran adonan yang berbahan utama tepung kanji. Makanan ringan ini sangat populer di daerah Priangan, dan dijual dalam berbagai bentuk dan variasi rasa. Makanan ini cukup terkenal pada era 80-an. Bahan makanan ini antara lain terdiri dari tepung kanji, tepung terigu, air, merica bubuk, garam, bawang putih, kedelai, daun bawang dan minyak goreng. Sekarang Cireng tidak hanya terdapat di Priangan saja, tetapi sudah menyebar ke hampir seluruh penjuru Nusantara. Cireng pada umumnya dijual oleh pedagang yang menaiki sepeda dengan peralatan membuat Cireng di bagian belakang sepedanya.

Sesuai dengan perkembangan zaman, cireng ini juga mengalami naik kelas dan perubahan bisnis yang cukup drastis. Kalau dulu hanya dimakan oleh anak-anak SD sambil diolesin sambal, sekarang ini cireng telah naik kelas menjadi salah satu komoditas makanan yang diwaralabakan, dan dijajakan tidak hanya di sekolah-sekolah SD, tetapi juga ada di berbagai mall yang berAC, dengan harga yang juga bisa dibilang tidak murah.

Saat saya berkunjung di pesta wirausaha dalam rangka ulang tahun komunitas Tangan Di Atas (TDA) di Jakarta minggu kemarin, saya menemukan bahwa cireng ini sudah dibuat dalam berbagai variasi, mulai dari bentuk kotak, daun, bulat, hingga berbentuk cinta. Rasanya juga bermacam-macam, mulai dari rasa ayam, sapi, abon, kornet, dan berbagai rasa lain.

Cireng Cinta

 

Saya tertarik mencoba mencicipi rasa sapi, dengan tentu saja cireng yang berbentuk cinta. Rasa acinya masih terasa, jadi jangan makan cireng dalam keadaan dingin, karena akan terasa keras. Makanlah sesaat setelah digoreng sehingga kriuknya terasa. Karena di dalam cireng sendiri sudah terdapat oncom, dan biasanya sudah pedas, maka bagi yang tidak suka pedas, tidak usahlah ditambahkan cabe ataupun saus. Tetapi bagi yang suka pedas, bolehlah makan cireng ini ditambahkan dengan saus atapun cabe.

Moral ceritanya adalah, jika kita pengin mulai bisnis, ngga usah terlalu berpikir yang jauh-jauh, mulailah dari apa yang ada di sekitar kita. Jika kita berpikir kreatif, akan banyak potensi yang bisa kita kembangkan dari hal-hal sederhana di sekitar kita.

Selain itu, bukan hanya jenis makanannya yang keren, ataupun jenis produknya. Cara mengemas makanan dengan variasi yang kreatif juga menentukan apakah suatu produk itu akan laku atau tidak. Sesederhana apapun suatu produk, jika dikemas dengan kemasan yang menarik, akan membuat kebutuhan orang akan produk itu menjadi terbangun.

Jadi, pernahkah Anda makan cireng, atau Anda pernah mempunyai pengalaman dengan cireng? Sok atuh diceritakan di sini, siapa tahu memberikan inspirasi bagi para pembaca yang lain.  

Salam Man Jadda Wajada,

BAHAN BACAAN

Buku Man Jadda Wajada, Penerbit Gramedia, Halaman 235-240


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: