Oleh: akbarzainudin | Februari 11, 2010

Bekerja dengan Panggilan Hati

 

Sefi (kiri), alumni Pesantren yang jadi pengusaha

Sefi (kiri), alumni Pesantren yang jadi pengusaha

Jika kita bertanya kepada para pedagang di pasar tradisional tentang kecap dan saos di Cirebon dan sekitarnya, hampir pasti pedagang tersebut akan merujuk kepada salah satu merek dari 18 merek saos dan kecap yang dimiliki oleh perusahaan keluarga Sefi Khirijil Yaman. 

Sefi, pengusaha yang menjalankan bisnis keluarga yang berdiri sejak puluhan tahun yang lalu menuturkan “Merek kecap dan saos nasional sulit bisa menembus pasar tradisional di Cirebon dan sekitarnya karena memang setiap daerah di sini memiliki cita rasa yang berbeda antara satu dengan yang lain. Di wilayah Cirebon bagian Barat memiliki cita rasa tersendiri, demikian juga di bagian Timur. Karena itulah, perusahaan kami memiliki sekitar 18 merek yang menguasai pasar kecap dan saos di Cirebon dan sekitarnya”. 

Ngobrol dengan alumni Pesantren Gontor ini memang menarik. Saat ditanya mengapa tidak menjadi Kyai saat lulus dari pesantren, jawabnya, mungkin darah pengusaha lebih mengalir dalam dirinya. Dan, toh berdakwah tidak harus selalu menjadi kyai. Lewat pengusaha-pun kita tetap bisa melakukan kegiatan dakwah, dengan menggiatkan bisnis yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. 
Apa yang dilakukan oleh Sefi adalah sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana mengelola potensi yang kita miliki. Setiap orang mempunyai potensi yang berbeda-beda sesuai dengan bakat, kemampuan, pendidikan, dan lingkungan hidupnya. Orang tinggal memilih potensi mana dari dalam dirinya yang ingin dikembangkan. 

Dalam bahasa Kyai, ini yang mungkin disebut sebagai “panggilan hati”. Ada orang yang terpanggil untuk menjadi pengusaha, ada juga yang terpanggil untuk menjadi guru. Atau di tempat lain ada juga yang terpanggil untuk menjadi Kyai. 

Jika kita bekerja dengan panggilan hati, maka kita akan bekerja dengan penuh cinta. Kecintaan terhadap pekerjaan akan menjadikan kita mencurahkan seluruh waktu dan tenaga kita untuk sukses dalam pekerjaan tersebut. Tetapi jika kita bekerja dengan terpaksa, maka kita akan sulit berkembang, karena tidak ada “hati” atau “jiwa” yang melingkupi pekerjaan kita. 

Dan terkadang, “jiwa” terhadap suatu profesi ini tidak terkait dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki. Ketika kita bekerja dengan panggilan hati, akan membuat kita sepenuhnya mampu menyerap berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan baru, bahkan yang belum pernah dipelajari sebelumnya. Karena itulah, penting bagi kita untuk bertanya pada diri kita masing-masing: “Sudahkah kita bekerja sesuai panggilan jiwa kita?”….

Yakinlah, siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan berhasil.

BAHAN BACAAN:
Buku MAN JADDA WAJADA, Karangan Akbar Zainudin, Penerbit Gramedia, hal. 109-118
https://manjaddawajada.wordpress.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: