Oleh: akbarzainudin | Januari 10, 2010

Like Father Like Son

 

Gita Gutawa (Foto: Kapanlagi.com)

Gita Gutawa (Foto: Kapanlagi.com)

 

Aluna Sagita Gutawa, yang akrab dipanggil Gita Gutawa adalah anak yang terlahir dari salah satu musisi kreatif Indonesia, Erwin Gutawa. Gadis yang lahir 11 Agustus 1993 ini sudah mulai belajar Piano Classic di Yayasan Musik Jakarta mulai KELAS 2 SD. Di samping itu, ia juga belajar Piano Jazz dan Gitar.

Tidak heran, dengan ketekunan dan kesungguhan yang dimiliki, ditambah darah seni yang mengalir dari keluarganya, potensi Gita Gutawa melesat begitu cepat. Album perdananya yang berjudul GITA GUTAWA, hanya dalam 4 bulan meraih penjualan Platinum dengan lebih dari 150.000 copy. Sebuah prestasi luar biasa, perpaduan dari bakat alam yang diwarisi orang tua, dan kerja kerasnya mengembangkan bakat yang dimiliki.

Like Father Like Son. Kalimat itu mungkin berarti sederhana, bahwa seorang anak biasanya menuruni bakat bapaknya. Tetapi semakin saya berpikir lebih mendalam, saya menemukan pemaknaan yang lebih luas lagi tentang kata-kata ini. Tidak sekedar menuruni potensi dan bakat yang dimiliki orang tuanya, ternyata potensi dan bakat itu juga dikembangkan dari bagaimana cara orang tua mendidik anaknya.

Kalimat itu mengilhami beberapa pertanyaan yang mesti kita jawab: Jika kita ingin anak-anak kita suka membaca misalnya, apa yang kita lakukan? Jika kita ingin anak-anak kita berkata-kata sopan, apa yang kita lakukan? Jika kita ingin anak-anak kita berdisiplin tinggi, apa yang kita lakukan.

Mungkin jawaban terbanyak kita adalah dengan memberitahukan kepada mereka dan berbicara melalui kata-kata agar mereka melakukan apa yang kita inginkan. “Nak, baca bukunya, nak”, atau, “Jangan nonton sinetron, nak”, dan berbagai kata lain yang kita ucapkan pada mereka.

Memberikan perintah melalui kata-kata memang satu keniscayaan yang mesti dilakukan. Tetapi dari sekian banyak kata-kata perintah tersebut, berapa persen yang langsung dituruti oleh anak-anak kita, dan berapa persen mereka langsung menjalankan apa yang kita perintahkan menjadi renungan selanjutnya yang perlu dipikirkan.

Jika dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali perintah dari kita yang tidak segera dilaksanakan oleh anak-anak, ataupun kalau menuruti kata-kata kita harus terlebih dahulu dimarahi atau diancam dengan hukuman tertentu, rasanya mungkin ada yang salah dengan cara kita memberi perintah.

Salah satu hal penting yang perlu kita perhatikan adalah bahwa anak-anak senang sekali menirukan apa yang kita lakukan atau kerjakan sehari-hari. Mereka sedang mencari figur yang sesuai dengan karakter mereka. Ada yang suka meniru Bapak atau Kakeknya bagi anak laki-laki, dan ada juga yang suka meniru Ibu atau Neneknya untuk anak perempuan.

Dengan memperhatikan apa yang kita kerjakan sehari-hari, anak akan merekam dengan baik tindak-tanduk dan perbuatan kita. Dengan berbagai memori yang terekam inilah yang menjadi salah satu dasar pertimbangan seorang anak dalam merespon perintah yang kita keluarkan. Karena itu, jangan harap anak-anak mau melakukan apa yang kita perintahkan jika kita sendiri tidak melakukan hal tersebut.

Jika kita menyuruh anak untuk rajin belajar, sementara kita sendiri tidak pernah terlihat di depan mereka membaca buku, terpikirkah oleh kita bahwa si anak sebenarnya juga “ogah-ogahan” mau belajar. Tidak ada contoh di dalam rumahnya bahwa belajar, dalam hal ini membaca buku, mengerjakan PR menjadi salah satu hal penting yang dilakukan orang tuanya. Tanpa adanya contoh dari kita, akan sangat sulit mengajak mereka untuk belajar.

Contoh lain, jika kita ingin anak-anak tidak menonton televisi terlalu lama, atau kita menginginkan mereka untuk tidak menonton sinetron ataupun infotainment, perintah dengan kata-kata yang kita sampaikan tidak akan pernah menjadi perintah yang efektif selama kita sendiri di dalam kamar menyediakan TV yang setiap hari nonton infotainment atau sinetron.

Jadi, jangan salahkan dulu anak-anak kita jika mereka malas belajar. Jangan salahkan mereka jika mereka penginnya main terus dan tidak mau membaca. Cobalah kita melakukan introspeksi dan melihat ke dalam diri kita, jangan-jangan kita sendiri yang malas, sehingga hal tersebut karena setiap hari dilihat oleh anak-anak lalu dengan secara tidak sengaja mendidik mereka juga untuk menjadi malas.

Mungkin saatnya kita mengubah pola pendidikan dan komunikasi dengan anak-anak. Sebelum kita memberikan satu perintah kepada anak-anak, alangkah baiknya kita mengecek terlebih dahulu ke dalam diri kita, sudahkah hal itu kita lakukan atau belum. Jika hal itu belum kita lakukan, dan kita perintahkan melalui kata-kata kepada anak-anak kita, jangan salahkan mereka kalau mereka menolak hal tersebut atau membangkang.

Pendidikan dengan memberi contoh adalah hal terbaik untuk menggerakkan orang lain. Karena itulah, saat kita ingin memulai kebaikan, yang terbaik adalah IBDA’ BINAFSIK, mulailah dari diri kita sendiri. Dengan mulai dari kita sendiri akan mudah bagi kita untuk memberi pengaruh kepada orang lain. Sangat sulit bagi orang untuk percaya kepada kita, jika orang tersebut tidak melihat diri kita sudah melakukan apa yang kita bicarakan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: