Oleh: akbarzainudin | Januari 6, 2010

Seberapa Manfaatkah Kita Bagi Orang Lain?

Dalam salah satu talkshow di salah satu stasiun televisi tentang pemberian gelar Pahlawan Nasional bagi Gus Dur, sejarawan Anhar Gonggong menyebutkan salah satu kriteria yang menarik tentang Pahlawan Nasional, yaitu bahwa mereka adalah orang-orang yang manfaatnya melampaui dirinya sendiri. Artinya, apa yang mereka kerjakan begitu banyak manfaatnya bagi orang lain.

Dan gelar pahlawan sebenarnya bukan bagi orang yang sudah meninggal, tetapi lebih penting bagi orang-orang yang masih hidup, bagi seluruh bangsa agar bisa meneladani apa saja yang telah mereka lakukan untuk kepentingan orang banyak.

Inti dari kepahlawanan karena itu adalah kemanfaatan, bagaimana seorang bermanfaat bagi orang lain. Karena itulah, kata Nabi: sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain. Nilai universal inilah di mana kita semua akan menuju ke sana; memberi banyak manfaat bagi orang lain.

Bagaimana memberi manfaat bagi orang lain dalam skala yang lebih besar? Stephen R. Covey membahas hal ini dengan sangat baik melalui apa yang disebut sebagai Circle of Concern dan Circle of Influence. Dua hal yang mungkin sering kita lakukan tetapi mungkin kita tidak menyadarinya.

Sederhananya begini: circle of concern adalah wilayah-wilayah di mana kita sering mempunyai perhatian, tetapi kita tidak mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi sesuatu, atau kekuatan untuk mengubah sesuatu. Contoh: kita concern dengan masalah Bank Century misalnya, tetapi sebagian besar kita hanya bisa concern tanpa mempunyai kekuatan untuk mengubah sesuatu. Karena itu, yang bisa kita lakukan adalah memberikan pendapat, mendukung petisi, mendukung pansus, dan lain sebagainya, lebih sebagai dukungan moral agar pekerjaan pansus Bank Century bisa berjalan dengan baik.

Berbeda dengan para anggota Pansus Bank Century, masalah ini bagi mereka adalah masalah di mereka bisa melakukan perubahan dan mempengaruhi sesuatu. Masalah Bank Century masuk ke dalam circle of influence mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal-hal semacam ini seringkali kita lakukan tanpa kita sadari. Hal yang penting untuk menjadi catatan adalah; jangan sampai kita terjebak untuk memikirkan dan mendiskusikan hal-hal yang sebenarnya bukan menjadi wilayah dan jangkauan kita (hanya sebagai circle of concern), sehingga melupakan berbagai hal yang sebenarnya bisa kita lakukan, atau bahkan menjadi kewajiban kita.

Ada seorang kawan saya yang tiap hari membahas tentang kejelekan-kejelekan Pemerintah di berbagai bidang. Setiap hari kerjaannya melakukan analisis tentang berbagai konspirasi Pemerintah, atau bagaimana Negara-negara maju seperti Amerika yang mendikte Pemerintah, dan ngobrol berjam-jam tentang berbagai persoalan tersebut.

Saya tidak pernah melarang seseorang untuk ngobrol masalah tersebut, tetapi yang terjadi sungguh disayangkan, karena apa yang menjadi kewajiban dia sehari-hari untuk bekerja secara baik akhirnya terbengkalai, karena sering diskusi di mana-mana tentang Pemerintahan ini. Saya hanya ingin mengatakan, jika dia adalah seorang yang bekerja di LSM yang memang concern mengurus kinerja Pemerintah, maka hal itu memang menjadi kewajibannya dan dia memang berada dalam lingkaran yang mengharuskannya bekerja seperti itu. Tetapi sebaliknya, jika hal itu bukan menjadi bagian pekerjaannya, maka mesti dikelola agar terjadi keseimbangan antara kewajiban yang harus ia lakukan dengan pekerjaan yang di luar kewenangan dan kemampuannya.

Nah, tugas kita masing-masing adalah memperluas “wilayah pengaruh” kita sehingga semakin lama kemampuan kita untuk mempengaruhi orang semakin besar. Dua hal yang bisa kita lakukan; mempunyai ilmu yang luas dan mempunyai hasil karya yang besar.

Seorang mahasiswa dulu mungkin hanya bisa mempengaruhi satu kelasnya. Setelah lulus, ia menelurkan berbagai karya ilmiah, pengaruhnya meningkat hingga satu universitas. Semakin diakui tingkat keilmuannya, maka semakin diakui pula secara lebih besar hingga tingkat nasional.

Seorang pengusaha, biasanya mulai dari usaha kecil, yang diakui pengaruhnya pada sekitar tempat usahanya. Lambat laun, seiring dengan semakin besarnya usaha yang dilakukan, pengaruhnya menjadi besar, menjadi nasional bahkan internasional.

Seorang aktivis pergerakan, dulu juga mungkin hanya berpengaruh di tingkat universitas ataupun daerah. Seiring dengan mobilisasi vertikal yang semakin tinggi, ia bisa mempengaruhi peta politik nasional. Hal ini juga berlaku bagi para politisi. Di mana ia bisa bergerak naik pengaruhnya menjadi tingkat nasional saat duduk di pemerintah pusat.

Belajar dari Gus Dur, secara keilmuan, Gus Dur adalah pemikir Islam yang dengan segala pro dan kontranya diakui tidak saja oleh kalangan nasional, tetapi juga di kalangan internasional. Karyanya sebagai Presiden juga memberikan dampak terhadap proses demokratisasi yang berjalan jauh lebih cepat.

Bagi kita, dua hal yang bisa kita lakukan untuk terus memperluas wilayah pengaruh dan manfaat kita: jangan berhenti belajar, dan terus berkarya sesuai dengan kemampuan dan keahlian kita masing-masing secara profesional.

Jadi, seberapa manfaatkah diri kita bagi orang lain?


Responses

  1. sebuah rerungan yang sangat bermanfaat

    purwati
    http://purwatiwidiastuti.wordpress.com
    http://purwati-ningyogya.blogspot.com
    http://purwatining.multiply.com

  2. Makasih, sy lihat blog Anda. Dokter, ya mba?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: