Oleh: akbarzainudin | Desember 21, 2009

Ketika MIMPI Bertasbih

Melihat Film Sang Pemimpi, rasanya kita dipaparkan dengan pembelajaran tentang bagaimana membangun mimpi dan terus menjaganya. Film berdurasi 128 menit itu, menurut saya memberikan gambaran luar biasa tentang bagaimana membangun mimpi. Bagi saya, menonton film ini sama berharganya dengan menghadiri berbagai seminar motivasi yang sering diadakan.

Jimbron, Ikal, Arai. Courtesy of Miles Film

Jimbron, Ikal, Arai. Courtesy of Miles Film

“Tanpa mimpi dan harapan, orang-orang seperti kita akan mati”, begitu papar Arai, tokoh yang sangat inspiratif dan menggelora kepada Muhammad Haikal, biasa dipanggil Ikal, tokoh utama film ini. Mereka berdua, bersama Jimbron adalah tiga tokoh utama yang membangun mimpi-mimpi mereka dari kota kecil Manggar, di wilayah Belitung Timur. Apa yang dikatakan Arai adalah sebuah keniscayaan. Bagaimana tidak, anak-anak muda di kota kecil kepulauan Belitung hampir-hampir tidak punya lagi keinginan dan masa depan, kecuali menjadi kuli timah di PN Timah, perusahaan Negara yang mengeksplorasi Timah di sana. Bertahun-tahun, siklus kehidupan mereka tidak berubah, hingga akhirnya harga timah dunia jatuh yang menyebabkan ikut runtuhnya PN Timah sebagai sebuah perusahaan. Tanpa adanya mimpi yang mendobrak dan revolusioner, mereka juga akan terjebak siklus semacam itu tanpa bisa kemana-mana.

Bermula dari sosok Pak Guru Julian Balia, yang mengajar dengan penuh inspirasi dan motivasi, tumbuhlah pada pemuda-pemuda itu motivasi besar untuk mendobrak keadaan yang mereka miliki, dan berani bermimpi untuk masa depan mereka. Tidak tanggung-tanggung, mereka bermimpi untuk bersekolah di Paris, yang mereka anggap sebagai salah satu pusat peradaban dunia, dan berkeliling Eropa dan Afrika.

Cita-cita itu tidak sekedar mereka angankan. Melalui peta dunia, mereka gambarkan akan melakukan perjalanan ke Eropa dan Afrika melalui coretan-coretan dan gambaran di atas peta tersebut dengan jelas. Sebuah gambaran yang sangat baik, bahwa mimpi itu harus bisa didetailkan, entah dengan gambar atau dengan tulisan. Dengan demikian, saat peta atau tulisan itu ditempelkan di dinding, kita akan selalu fokus untuk bagaimana mencapai impian itu sekuat usaha kita.

Maka, berbekal uang hasil jerih payah mereka bekerja sambil belajar, ditambah uang tabungan Jimbron, mereka berangkat ke Jakarta, tanpa tahu arah tujuannya ke mana. Tetapi Arai mengerti, bahwa mimpi ke Paris harus dimulai dengan masuk kuliah ke perguruan tinggi. Dipilihlah Universitas Indonesia yang mereka masuki. Selama perkuliahan, karena harus membiayai kuliah sendiri, mereka kerja serabutan, mulai dari staf fotocopy, sales sepatu, hingga berbagai pekerjaan apapun mereka lakukan demi mempertahankan hidup.

Pada akhirnya, mereka lulus dari kuliah. Dan bukan perkara mudah, bagi seorang sarjana UI sekalipun untuk mencari kerja. Setelah bekerja serabutan, Ikal diterima sebagai pegawai pos di Bogor. Dan Arai? Karena tidak punya pekerjaan tetap, merantau ke Kalimantan dan bekerja di sana. Apakah cita-cita mereka untuk ke Paris selesai? Ternyata tidak. Cita-cita itu masih menggelora, bahkan walaupun sekarang ini jadi staf di kantor pos sekalipun.

Ada satu pelajaran penting yang kita dapatakan dalam mencapai cita-cita ini, yaitu bahwa hidup ini bukanlah lari jarak pendek yang akan selesai dalam 1-2 tahun ke depan. Tetapi seperti lari maraton, mungkin keadaan sekarang berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan. Tetapi hal itu tidak boleh menghalangi kita untuk mencapai apa yang kita cita-citakan. Arai dan Ikal adalah contoh yang baik untuk menggambarkan bahwa cita-cita itu tidak boleh kandas. Kita tidak boleh kalah dengan keadaan kita sekarang. Kita ini manusia masa depan, bukan manusia masa lalu. Yang penting bukan kondisi kita saat ini, tetapi kita tahu bahwa kita akan menuju ke mana di masa mendatang.

Dan akhirnya, studi ke Paris itu datang lewat seleksi beasiswa oleh yayasan yang menyediakan beasiswa ke Paris. Dan itu didapatkan setelah lebih dari 3 tahun kerja serabutan setelah lulus sarjana, melalui tekad dan kerja keras yang tidak pernah putus. Jangan Pernah Remehkan Mimpi Anda. Mulailah bermimpi, karena kita akan mati dan tidak pernah menjadi apa-apa jika kita tidak mulai untuk bermimpi…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: