Oleh: akbarzainudin | Desember 17, 2009

Tukang Becak itu….

Minggu ini kebetulan saya sedang di kampung, mengurusi Bapak saya yang sedang sakit. Suatu hari, saya berkeliling kampung menggunakan becak yang masih menjadi moda transportasi umum di kampung-kampung. Saya melihat sawah-sawah yang menghijau, sebagian besar mulai tergusur untuk diurug dan dijadikan perumahan. Warung-warung yang dulu berserakan, sekarang banyak berubah menjadi toko voucher hp dan perlengkapannya. Di beberapa tempat, berdiri menara-menara telekomunikasi dengan gagahnya. Semua mencerminkan perubahan cukup besar dari sosok desa menuju ke sosok kota. Semoga saja, tidak segera mengubah adat istiadat dan budaya yang baik yang dimiliki oleh orang-orang desa. 

Seperti biasa, saya selalu ngajak ngobrol orang-orang yang saya temui di jalan, termasuk tukang becak tersebut. “Sudah berapa lama, Pak, jadi tukang becak?” Saya memulai pembicaraan. “Sudah sejak 1993, mas”, jawab Pak Mirkun, sebut saja begitu. Saya menyahut lagi: “Ngga cari pekerjaan lain?”. Tukang becak itu tersenyum, tapi terasa pilu: “Susah mas, cari kerja. Saya cuma tamat SD, saya sudah mencoba melamar ke mana-mana, tetapi selalu saja ditolak. Akhirnya, yang paling mudah ya narik becak ini. Mungkin sudah takdirnya, mas?”…

Pak Mirkun kemudian balik bertanya ke saya: “Mas ini aslinya mana, dan dalam rangka apa ke sini?”. Saya menjawab: “Saya aslinya ngga jauh dari sini, Pak. Sekitar 200 m ke arah Selatan perempatan. Saya sedang mengurus Bapak saya yang sakit, doakan ya….”. Pak Mirkun kemudian menjawab: “Nggih, saya doakan mas. Yang penting sampeyan sabar dan meminta pertolongan Allah. Dan yakinlah bahwa Allah sudah mengatur semuanya. Dengan keyakinan itu kita akan menjadi kuat.”

Pak Mirkun masih meneruskan omongannya: “Saya ini mbecak udah lama, sering penumpang tidak sabaran pengin cepet-cepet nyampai, padahal lalu lintas sekarang banyak motor dan mobil sehingga kita tidak bisa sembarangan nyeberang. Suatu hari, pernah ada penumpang yang ngomel-ngomel karena saya berhenti dulu melihat kanan-kiri sebelum menyeberang. Penumpang tersebut marah-marah dan bilang kalau dia harus cepat-cepat nyampai. Saya menjawabnya dengan tersenyum, lalu saya bilang: “Bapak, saya ini adalah tukang becak. Walaupun saya wong cilik, saya mengerti benar bahwa tugas saya adalah membawa penumpang dengan selamat. Saya ingin membawa Bapak dengan selamat, karena itu saya perlu melihat kiri-kanan sehingga tidak tertabrak mobil atau motor. Bapak itu baru diam dan meminta maaf”. 

Ngobrolnya tidak bisa saya lanjutkan karena saya sudah sampai ke tempat tujuan. Sambil berjalan saya merenung, tukang becak itu sungguh memberi saya banyak pelajaran hari ini. Pertama, tentu saja tentang sabar dan ikhlas menghadapi apapun cobaan yang kita hadapi. Terkadang kita juga lupa dengan hal ini. Terutama kalau cobaan itu terasa begitu berat, sering terlupa kita mengeluh: “mengapa Tuhan menciptakan cobaan yang begitu berat ini kepada saya?, sebuah keluhan yang tidak saja bukan pada porsinya, tetapi malah menambah persoalan dan beban bagi diri kita. 

Kedua, bahwa apa yang terjadi di dunia ini tidak saja karena ulah kita, tetapi ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Karena itulah kita harus yakin bahwa Tuhan menciptakan semuanya untuk memberi manfaat kepada kita. Bahwa DIA tidak menciptakan semuanya dengan sia-sia. Tugas kita adalah berserah diri, ikhlas, sambil terus berusaha yang terbaik yang bisa kita lakukan….

Aku menghirup nafas dalam-dalam. Di tengah-tengah sawah pedesaan, terasa bahwa udara di sini masih bersih, sehat. Aku berdoa semoga hal-hal seperti ini masih bisa dijaga..


Responses

  1. alhamdulillah kenging oge artikel perkawis inspirasi, motivasi anu salami ieu ku abdi di paliaran teh, di internet ,insyaAlloh bade ditrasfer deui ka siswa2 sim kuring, jazakillah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: