Oleh: akbarzainudin | Desember 11, 2009

Kerja Keras Sang Petani

Sudah lama saya tidak pergi ke sawah. Tadi pagi, saat saudara saya mengajak saya untuk melihat sawahnya, saya segera menyanggupinya. Sawahnya terletak di wilayah Cikarang, sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta. Sengaja kita berjalan pagi-pagi agar udara tidak terlalu panas. Setelah melalui pintu tol Cibitung, kita menuju ke areal persawahan. 

Setelah melewati jalanan aspal, perjalanan kemudian berbelok ke arah jalanan tanah yang belum diaspal. Karena sering dilewati mobil pengangkut beras, jalanan ke arah sawah menjadi bergelombang. Saya bisa membayangkan, jika turun hujan maka tanah tersebut akan menjadi sangat becek dan sulit dilewati kendaraan. Setelah sekitar setengah jam melewati jalanan bertanah, akhirnya kita sampai di pinggiran sawah. 

Tadinya saya berpikir bahwa sawahnya berada tepat di pinggiran tanah tersebut. Tetapi yang terjadi kemudian cukup mengagetkan saya: “Ayo, dari sini kita berjalan ke tengah sawah sekitar 1 km ke depan. Wah, saya pikir ini akan kembali mengingatkan saya pada masa kecil saat sering bermain di tepian sawah. Seingat saya, sudah lama sekali saya tidak menginjak pematang sawah, apalagi pada saat musim hujan begini. 

Saya segera menggulung celana hingga ke atas lutut, karena memang pematang sawah yang kita lewati becek dan berair. Setelah sekitar 30 menit berbecek ria, sampailah kita ke sawah yang dituju. Ada beberapa petak sawah di sana, sebagian ada yang sudah dipanen, dan sebagian lagi ada yang sudah menguning dan siap dipanen. Petani penggarap yang menemani kita menjelaskan, kalau sawah yang digarapnya rata-rata bisa menghasilkan 4-5 ton beras per ha setiap panennya. Beras tersebut dijual seharga Rp 2.300/kg. Karenanya, hasil panen untuk 1 ha sekitar Rp  9-11 Juta per hektar untuk satu musim tanam (sekitar 4 bulan).  Ongkos produksi sekitar Rp 2-4 Juta sehingga hasilnya sekitar Rp 6-7 juta per panen. Jika dibagi dua dengan pemilik lahan, maka setiap 4 bulan sekali petani menerima Rp 3 juta bersih untuk satu ha tanah garapan. 

Agak miris sebenarnya mendengar kisah si petani. Saya terus terang untuk jalan bolak-balik 2 km di atas pematang sawah saja sudah berkeringat dan kepanasan. Mereka para petani hampir tiap hari bekerja semacam itu mulai dari memproses tanah, menyebar benih, menanam, menyiangi, hingga memanen. Tidak ada kata “mengeluh” yang terucap. Kalaupun mereka mengeluh, yang dikeluhkan adalah harga pupuk yang terus menanjak naik.

Jika kita mengeluhkan tentang betapa susah hidup ini, mungkin kita perlu menengok mereka betapa risiko pekerjaan mereka juga besar. Jika sawah kebanjiran, maka padi menjadi kosong tidak berisi. Jika hujan deras dan sawah tidak dikeringkan, maka keong akan dengan beringas memakan bibit padi yang baru ditanam. Hama tungro menyerang, padi yang biasanya hijau menjadi kuning dan layu tidak berkembang. Yang mungkin juga menjadi cerita sedih, saat padi sudah mulai menguning dan siap dipanen, tikus tiba-tiba datang tanpa diundang, memakan padi dan merusak tanamannya. 

Semua cerita sedih itu hanya dipendam, sambil setiap hari menyerahkan diri pada Tuhan, berdoa agar tanaman padi yang ditanamnya bisa tumbuh dengan baik. “Hasilnya dizakatkan ngga, Pak?” Saya iseng bertanya. Dan jawabannya sungguh menggetarkan hati: “Saat sebelum saya bawa pulang, beras ini sudah saya potong untuk dizakatkan kepada anak-anak yatim di sekitar musholla di samping rumah”…………


Responses

  1. Subhanallah… terima kasih ceritanya salam kenal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: