Oleh: akbarzainudin | Maret 21, 2008

Menasehati Diri Sendiri

Saya baru bertemu rekan lama saya, senior saya waktu dulu jadi mahasiswa. Setelah lama kita ngobrol, ada satu hal yang membuat saya sungguh kaget mendengarnya: rumah tangganya sedang bermasalah. Mereka sedang dalam konflik yang hebat, dan nyaris berpisah Saya nanya: “Kenapa, Abang selingkuh?”. “Bukan”, jawabnya dengan tegas.

Dia cerita bahwa setahun ini komunikasi dengan istrinya sudah tidak bisa lagi berjalan dengan baik. Padahal, sebelum ini ia merasa baik-baik saja dengan istrinya. Tidak ada konflik besar yang berarti. Tetapi, ada satu hal yang membuatnya sangat sakit: ia merasa bahwa istrinya tidak lagi menghargainya sebagai seorang suami.

Ingatan saya kemudian terbayang pada sekitar dua minggu sebelumnya, saat saya membaca rubrik konsultasi di sebuah surat kabar. Hampir sama dengan rekan senior saya, diceritakan dalam konsultasi itu bahwa sang suami merasa istrinya tidak lagi memperhatikan dia, dan dia merasa bahwa istrinya tidak lagi menghargainya sebagai seorang suami.

Dan sungguh menarik jawaban dari psikolog yang mengasuh rubrik tersebut. Kurang lebih jawabannya begini: “Bapak A yang baik, di saat Anda menulis surat ini, mungkin istri Anda di rumah juga merasakan hal yang sama dengan Anda, bahwa ia sedang merasa tidak lagi dihargai sebagai istri oleh Anda”.

Sejujurnya saya tersenyum kecut membaca hal itu. Karena saya berharap bahwa pertanyaan itu dijawab dengan jawaban yang paling tidak “membantu” ataupun “mendukung” pertanyaan Bapak tersebut. Karena sebagai laki-laki dan suami, terkadang juga saya merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Bapak di penanya.

Walaupun demikian, jawaban itu pada akhirnya menyadarkan saya juga, bahwa dalam setiap orang terdapat sikap egoisme dan ingin dihargai oleh orang lain. Tetapi ketika ego seseorang itu diikat dalam sebuah ikatan (entah pertemanan, persahabatan, cinta, ataupun pernikahan), ego kita dibatasi oleh ego orang lain.

Artinya, saat kita mengikrarkan diri untuk sebuah ikatan, maka kebebasan egoisme kita harus di”kompromi”kan dengan pasangan kita. Di situlah ada ikatan dalam bentuk saling menghargai dan mengkompromikan ego masing-masing. Jika dua orang ini tidak mau berkompromi dengan egonya, jangan harapkan sebuah ikatan itu akan berlangsung langgeng.

Dan dalam kehidupan ini, jangan pernah berharap bahwa pasangan kita mempunyai kesamaan-kesamaan dengan kita, sehingga apa yang akan kita kerjakan itu bisa berlangsung dengan baik. Orang yang mendambakan hal seperti itu baiknya memang hanya “kawin” dengan angan-angannya belaka, karena semua manusia di muka bumi ini diciptakan berbeda.

Saya juga pernah ngobrol dengan teman saya di Jogja yang udah seumuran saya, dari segi umur, sih harusnya udah nikah karena teman-teman saya rata-rata sudah punya anak 2 hingga 3 orang. Kesimpulan saya sederhana, dia masih berpegang teguh dengan egonya dan tidak mau menurunkan “ego-kebebasan” yang dimilikinya untuk dibagi dan diturunkan dengan pasangannya.

Dengan mindset semacam itu, memang dia tidak akan menikah dengan manusia sebenarnya, sampai kapanpun ia hanya akan bisa menikah dengan “angan-angan” dan “ego”nya sendiri.

Kembali kepada cerita teman saya di atas. Dengan sedih ia bercerita: “Akbar, yang saya menjadi ironi adalah, saya itu menjadi rujukan kawan-kawan saya kalau ada masalah. Mereka datang ke saya. Jika ada konflik, sebesar apapun konflik itu datang, saya dengan segera bisa menganalisis konflik itu dengan baik, memetakan anatominya, dan segera pula bisa memberikan berbagai solusi masalah yang bisa ia lakukan. Dan biasanya, beberapa hari kemudian ia datang lagi dengan senyum ceria, bahwa konfliknya telah ia selesaikan. Namun, yang ironis, ketika masalah itu datang kepada saya, ternyata saya tidak tahu apa yang harus saya kerjakan. Bahkan saya tidak mampu menggambarkan mengapa konflik ini terjadi, sehingga akhirnya ketika saya berhadapan dengan istri saya, yang ada hanya bisa saling terdiam”.

Saya menyimak cerita itu dengan sangat mendalam. Sebagaimana seorang dokter yang terkadang kesulitan mendiagnosa penyakit yang dideritanya, begitu juga teman saya yang satu ini. Ia begitu mahir untuk mengatasi berbagai konflik dalam berbagai skala, mulai dari yang tingkat rw hingga tingkat yang lebih besar, tetapi ketika konflik itu menerpa dirinya sendiri, ia tidak bisa menyelesaikan dan keluar dari konflik itu dengan baik.

Saya terdiam dan menyadari sepenuhnya, banyak orang juga datang untuk sharing dan bercerita tentang berbagai masalah yang dihadapinya. Dan biasanya, saya bisa segera mencari akar permasalahan yang ada, dan mencarikannya jalan keluar. Tetapi ketika masalah itu datang kepada diri saya sendiri, belum tentu juga saya bisa menyelesaikannya.

Duh Gusti, nyuwun ngapuro atas kecongkakan hamba-Mu ini!


Responses

  1. Dalam sebuah buku disebutkan bahwa kalau kita ingin berbahagia dalam ikatan perkawinan maka manajemen harapan kita yang harus diubah. Kalau faktanya kelakuan pasangan kita bernilai 9, maka standar yang harus kita canangkan harus lebih rendah, misalnya 7 atau maksimal 8.
    Jika kita melakukan sebaliknya, misalnya fakta pasangan kita bernilai 7, tetapi kita mencanangkan standarnya 9. Maka, sampai kiamatpun tidak akan pernah ada kebahagiaan dalam berumah tangga. Sekali lagi, kalau untuk orang lain rasanya memang enak ngomongnya. Tapi kalau sudah kena diri sendiri, ya amplop..eh ya ampunnn…susahnya setengah mati. Salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: