Arsip untuk ‘Paradigma-Mindset’ Kategori

Hidup Ini Terlalu Indah untuk Disesali

Maret 6, 2008

Buka Mata, Buka Telinga, Buka Hati Nurani

Bersyukur berasal dari bahasa Arab “Syakara”, yang diartikan sebagai “Fataha” atau membuka. Bersyukur berarti membuka diri, membuka hati, dan membuka pikiran untuk mendapatkan pencerahan dari berbagai sumber. Rasa syukur harus dimulai dari “membuka” diri terhadap apa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Tanpa membuka diri, akan sulit bagi kita untuk mensyukuri apa yang telah ada.
Jika kita tidak membuka diri, kita akan terjebak untuk mengingkari nikmat. Ada dua hal yang menyebabkan manusia mengingkari nikmat, yaitu merasa bahwa dirinya belum diberikan apa-apa, dan kedua merasa bahwa apa yang ia dapatkan sekarang  semata-mata hasil kerja keras dia, dan bukan pemberian Tuhan.
Pada kasus pertama, orang merasa belum mendapatkan apa-apa, merasa hidupnya paling merana di dunia, dengan segala kekurangan yang dimilikinya. Ia selalu melihat ke atas, mendongakkan kepala kepada orang-orang yang diberikan rezeki lebih banyak darinya. Jika ada orang yang lebih maju darinya, ia merasa Tuhan tidak adil. Ia merasa sendiri dan tidak mendapatkan Rahmat serta pertolongan dari Tuhan.
Padahal, itu semua terjadi karena ia tidak melihat hal-hal positif yang ada pada dirinya. Ia selalu melihat semuanya secara negatif, dari sisi yang berseberangan. Ia tidak menyadari bahwa betapa nikmat Tuhan begitu banyak telah diberikan kepadanya. Sesungguhnya, mulai dari nikmat sehat, fisik dan tubuh yang kuat, merupakan nikmat yang sangat besar. Ia tidak menyadari bahwa begitu banyak orang-orang yang lebih tidak beruntung dibandingkan dirinya. Kesadaran dirinya tertutup, dan karenanya ia tidak merasa mendapatkan apa-apa.
Karena itulah, sangat menarik apa yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Mulk Ayat 23: “Katakanlah, “Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”.
Seperti disebut dalam ayat di atas, Al-Qur-an menyebut tiga hal yang sering tertutup oleh manusia yang menghalangi mereka untuk bersyukur, yaitu penglihatan (Abshar), pendengaran (sam’un), dan hati nurani (af’idah). Bukan hanya sekali Allah menekankan ketiga hal ini yang harus dibuka, menunjukkan bahwa tiga hal ini memiliki posisi penting agar manusia mau bersyukur.
Membuka mata, penglihatan (abshar) menjadi syarat pertama yang harus dilakukan. Membuka penglihatan berarti melihat apa-apa di sekeliling kita, dan menyadari betapa banyak nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Membuka mata menjadi titik awal rasa syukur kepada nikmat yang telah Allah berikan.
Sangat menarik bahwa Rasulullah juga mengajarkan agar pandai bersyukur, kita mesti melihat orang-orang yang secara ekonomi dan kehidupan jauh di bawah kita. Dengan memperhatikan hal tersebut, kita akan merasakan bahwa nikmat yang kita terima jauh lebih besar daripada nikmat yang diberikan orang lain.
Lihatlah orang-orang yang mempunyai harta yang lebih sedikit dibanding kita, lebih miskin, dan lebih kekurangan. Lihatlah orang-orang yang mempunyai kedudukan masih jauh di bawah kita, lihatlah orang-orang yang sakit, lihatlah orang-orang yang untuk mendapatkan pekerjaan atau penghasilan kecilpun harus bersusah payah dan bekerja keras membanting tulang. Dan lihatlah berbagai kekurangan yang ada pada orang lain, semua itu akan membuat kita lebih pandai bersyukur.
Setelah membuka mata, orang juga mesti membuka telinga. Membuka telinga artinya mendengarkan secara jernih berbagai masukan dan informasi dari luar diri kita. Dengan terbukanya wawasan dan pengetahuan yang kita miliki, akan memberi makna lebih besar bagi proses memahami nikmat yang telah diberikan.
Membuka diri secara lebih besar ada pada membuka hati nurani. Membuka hati nurani artinya berjiwa besar terhadap apa yang terjadi dan selalu berpikir positif. Apapun yang terjadi pada diri kita, baik dan buruk adalah “nikmat” yang diberikan Tuhan untuk menguji, apakah kita tambah “bersyukur” atau “meningkari” nikmat tersebut.
Berjiwa besar artinya memahami jika mendapatkan suatu “nikmat yang buruk” menurut pandangan kita, hal itu bukanlah akhir dari segalanya. “Nikmat yang buruk” akan memberikan kesadaran bahwa selama ini begitu banyak nikmat yang diberikan Tuhan yang belum kita syukuri. Orang tidak akan merasakan nikmatnya sehat jika ia belum pernah sakit. Tatkala sakit itulah orang bisa merasakan betapa kesehatan merupakan nikmat yang sangat berharga bagi hidupnya.
Begitu juga orang tidak bisa merasakan nikmatnya mempunyai harta yang banyak jika ia tidak pernah merasakan hidup sebagai orang miskin. Karena itu, jika kita mempunyai kekurangan, kekurangan itu mesti kita syukuri dengan baik karena dengan kekurangan itulah kita bisa merasakan nikmat yang sesungguhnya saat kita merasakan kelebihan.
Jiwa besar itu juga diperlukan saat kita mendapatkan nikmat yang menurut kita positif. Nikmat sehat, rejeki, dan berbagai nikmat lain adalah pemberian yang tidak diberikan kepada semua orang. Bersyukur akan mencegah kita dari kesombongan bahwa apa yang kita terima adalah hasil upaya kita sendiri. Bersyukur akan memberikan kesadaran bahwa di balik usaha-usaha yang kita lakukan, ada tangan Tuhan yang membantu memberikan nikmat itu.
Kesadaran semacam itu akan memberikan ketenangan hati apapun kondisi yang menimpa kita. Jika kita mendapatkan nikmat yang banyak, kita akan bersyukur bahwa Tuhan memberikan apa yang kita usahakan. Tetapi sebaliknya, jika tertimpa musibah atau situasinya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, kita juga tidak terlalu larut dalam kesedihan.

Bersyukur, Kedamaian Hati, dan Ketambahan Nikmat

Mengapa bersyukur bisa menambah nikmat yang telah diberikan? Firman Allah yang sangat terkenal dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim Ayat 7: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat”.
Salah satu jawaban dari pertanyaan di atas adalah karena dengan bersyukur, manusia menemukan kedamaian hati dan juga orientasi hidup yang benar. Bersyukur akan membuat hidup manusia lebih bermakna. Ia tidak lagi berpikir jangka pendek, tetapi bagaimana memaknai hidup secara lebih baik di masa mendatang.
Mensyukuri nikmat yang telah diberikan tidak hanya terucap di bibir, tetapi juga dengan tindakan-tindakan yang mendukung sifat dan sikap positif tersebut. Bersyukur terhadap harta yang diberikan adalah dengan membelanjakan harta tersebut untuk nilai-nilai positif dalam kehidupan, yang berguna baik bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat secara umum.
Mensyukuri nikmat sehat berarti menggunakan kesehatan tersebut sebaik-baiknya dengan bekerja keras, tidak bermalas-malasan, dan selalu mengembangkan diri secara serius. Mensyukuri nikmat kehidupan berarti tidak menyia-nyiakan hidup ini dengan berbagai kegiatan yang tidak berguna dan sia-sia.
Makna ketambahan nikmat dalam ayat Qur’an di atas tentu saja bukan semata-mata ditambah nikmatnya, tetapi juga atas dasar usaha dan kerja keras yang kita lakukan. Jika orang berpikir positif, berjiwa besar, dibarengi dengan kerja keras dalam hidupnya, tentu akan membuka potensi untuk menghasilkan produktifitas yang lebih tinggi.
Produktifitas yang lebih tinggi inilah jelmaan dari janji Allah bahwa Dia akan menambah nikmat bagi orang-orang yang mau bersyukur. Dengan bersyukur, orang akan lebih termotivasi dalam hidup, bekerja lebih keras, tumbuh sikap positif dan pantang menyerah. Kondisi negatif apapun dipahami sebagai wadah untuk membuat hidup ini lebih baik. Itulah makna nikmat yang akan selalu ditambah jika kita bersyukur.

Hidup Ini Tidak Ada Yang Perlu Disesali

Tidak ada manusia yang sempurna. Ungkapan itu memang klise, tetapi kondisinya memang begitu, bahwa setiap manusia mempunyai sisi kelebihan dan kekurangan. Kekurangan adalah anugerah Tuhan agar kita mencari sisi terbaik dari diri kita yang lain. Tanpa adanya kekurangan, kita cenderung akan berpuas diri dan tidak mau memperbaiki diri.
Kekurangan mengajarkan orang mencari kelebihan-kelebihan yang mampu membuatnya tetap mempunyai nilai tambah. Dan biasanya, orang yang mempunyai kekurangan di satu sisi, diberikan kelebihan di sisi lain. Karenanya, jika ada kekurangan dalam diri kita, tidak perlu bersedih atau berkecil hati karena pasti ada kelebihan di tempat lain. Tuhan menciptakan keseimbangan dalam hidup. Tugas manusia mencari keseimbangan itu dalam dirinya sehingga ia menemukan apa yang ia cari.
Pada intinya, tidak ada satupun di dunia ini yang tercipta sia-sia, semua ada manfaatnya. Karenanya, tidak ada satupun jua yang perlu disesali di dunia ini. Semua yang ada tercipta dengan segala perhitungan Tuhan yang matang. Jika ada yang terasa janggal, manusia mungkin belum tahu rahasia dibalik kejanggalan tersebut.

Positif Saja-lah!

Maret 6, 2008

Cara paling mudah untuk membangun kepribadian yang baik dimulai dari usaha maksimal seseorang untuk bagaimana selalu berpikir positif terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Cara orang memberi respon terhadap kejadian sekitarnya yang menentukan seseorang akan merasa “bahagia” atau “tertekan”.

Jika ia merespons kejadian di lingkungan sekitarnya dengan pikiran yang negatif, maka hal itu akan mempengaruhi pikiran dan perasaannya sehingga akan menjadi beban dalam hidupnya. Beban ini kadang bisa ditanggung, dan kadang tidak bisa ditanggung oleh yang bersangkutan. Jika beban ini menjadi terlalu berat, maka secara biologis bisa menyebabkan berbagai macam penyakit, mulai stress yang ringan hingga stroke yang bisa mematikan.

Setiap orang di dunia ini selalu mempunyai permasalahan. Karena di situlah manusia diuji dengan sesungguhnya pada bagaimana mereka mengelola permasalahan tersebut. Jika manusia mampu mengatasi berbagai persoalan dan permasalahan hidupnya, maka kemampuan dan keterampilan hidupnya akan terus meningkat. Peningkatan kemampuan dan keterampilan hidup inilah yang akan menjadi faktor penting bagi peningkatan kualitas hidupnya. Artinya, setiap persoalan adalah ujian, manusia akan ditingkatkan derajatnya jika mampu menghadapi persoalan tersebut.

Berpikir positif akan membuat permasalahan hidup tidak menjadi beban yang berat. Berpikir positif akan membuat orang mampu mengurai satu per satu permasalahan tersebut sehingga beban-beban yang ada bisa diselesaikan. Karena itu, tidak ada cara lain untuk meningkatkan kualitas hidup manusia kecuali memulainya dengan berpikir positif.

Untuk bisa berpikir positif, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan, di antaranya adalah:

Pertama, kenalilah semua fakta yang terjadi berdasarkan data-data yang ada. Jangan pernah berasumsi terhadap sesuatu sebelum ada bukti-bukti nyata. Biasanya, salah satu faktor utama timbulnya pikiran negatif adalah karena kita mengasumsikan sesuatu sesuai dengan pikiran kita, padahal belum tentu hal itu sesuai dengan apa yang terjadi.

Contohnya, ketika pasangan kita pulang malam misalnya, tentu banyak hal yang mungkin terjadi. Bisa jadi ia sedang mengerjakan pekerjaan kantor karena belum selesai, bisa jadi sedang meeting dengan klien, dan lain-lain. Tetapi jika kita sudah terlebih dahulu berasumsi, apalagi dengan asumsi yang negatif, maka itu menjadi awal dari sebuah bencana.

Karena, biasanya asumsi-asumsi yang belum tentu benar itulah yang menjadi dasar kita dalam mengambil keputusan. Dan ketika itu terjadi, maka kita akan sulit menerima kebenaran-kebenaran karena pikiran dan otak kita sudah tertutupi oleh kesimpulan yang sejatinya belum tentu benar karena didasarkan atas berbagai asumsi yang kita bikin sendiri. Karena itu, hati-hatilah dalam berasumsi terhadap sesuatu.

Kedua, kenali risiko dari permasalahan yang ada. Setelah memahami berbagai fakta dan bukti-bukti yang ada, langkah kedua adalah mengenali berbagai risiko yang mungkin timbul jika kita ingin mengambil suatu keputusan. Dengan mengenali risiko yang ada, memungkinkan seseorang untuk bersiap-siap terhadap apapun yang akan terjadi. Kesiapan inilah yang membuat kita selalu berpikir positif terhadap apapun permasalahan yang terjadi.

Ketiga, kalau ada masalah, segera ambil keputusan dan jangan ditunda. Menunda persoalan adalah awal dari timbulnya persoalan lain. Semakin menumpuk persoalan akan semakin sulit bagi seseorang dalam mengurai persoalan tersebut. Hal itu terjadi karena tumpukan masalah akan terlihat seperti benang kusut yang tidak tahu harus dari mana mengurainya. Padahal, jika persoalan tersebut segera diselesaikan dan tidak ditunda, maka beban penyelesaiannya akan menjadi lebih ringan.

Keempat, setelah kita berani mengambil suatu keputusan, hadapilah segala risiko yang mungkin timbul. Biasanya, sebelum keputusan diambil, kita mengalami ketakutan-ketakutan terlebih dahulu terhadap risiko yang harus dihadapi. Padahal, ketakutan-ketakutan ini biasanya sering terasa berlebihan. Karena pada saat keputusan diambil, bisa jadi konsekuensinya tidak seberat dari apa yang dibayangkan.

Dengan memahami berbagai persoalan yang ada di lingkungan sekitar, orang akan siap untuk menghadapi berbagai persoalan sehingga memugkinkan repons terhadap lingkungannya menjadi lebih positif.

Mulai Dari Pikiran Anda

Maret 6, 2008

Kuncinya adalah Pikiran

Dari manakah kekuatan positif dan negatif seorang berasal? Tidak lain dan tidak bukan, kekuatan itu berasal dari pikiran. Pikiranlah yang membuat perintah kepada seluruh organ tubuh untuk melakukan sesuatu. Pikiranlah yang mempengaruhi perasaan dan kekuatan manusia untuk takut atau berani dalam mengambil keputusan. Kunci utama dari kesuksesan manusia adalah cara dia mengelola pikirannya.

Orang yang belajar bersepeda, ketika ia berpikir tidak bisa naik sepeda, maka selamanya ia tidak akan pernah bisa naik sepeda. Ketika ia berpikir untuk takut jatuh, iapun akan dihantui oleh pikiran tentang jatuh yang menyebabkannya takut belajar. Sebaliknya, orang yang memberanikan diri bersepeda dan mengambil risiko untuk jatuh, timbul keberanian yang besar yang pada akhirnya akan mempengaruhi keseimbangan tubuhnya.

Keberanian yang bermula dari cara kita mengelola pikiran inilah yang membantu seseorang belajar melakukan sesuatu secara baik. Tanpa adanya pengelolaan pikiran dengan benar, seseorang tidak akan pernah berani memulai sesuatu. Kekuatan positif bermula dari bagaimana mengelola pikiran.

Jangan batasi pikiran Anda

Salah satu kecenderungan negatif lain yang sering dilakukan seseorang adalah apa yang disebut sebagai “underestimate” (meremehkan, merendahkan) kekuatan yang dimilikinya. Akhirnya, hal itu menimbulkan rasa rendah diri yang tidak perlu pada saat melakukan sesuatu.

Contoh yang sering terjadi adalah, pada saat kita ingin melakukan sesuatu, di awal kita sudah terlebih dahulu takut dan tidak berani melakukan karena banyak hal: “merasa belum cukup umur, tidak berbakat, tidak berpengalaman, takut tidak bisa, takut mengecewakan”, dan berbagai ketakutan lain yang sifatnya merendahkan diri sendiri.

Pada akhirnya, pikiran semacam itu menjadi belenggu bagi diri sendiri untuk melihat dan memanfaatkan peluang yang tersedia. Kemauan dan kemampuan yang sudah ada pada diri sendiri terhambat oleh pemikiran sempit yang celakanya ditimbulkan oleh diri sendiri.

Karenanya, belenggu pemikiran semacam ini harus terlebih dahulu disingkap, dihilangkan jauh-jauh dari pikiran kita, sehingga potensi dan kesempatan yang terbuka di depan kita bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Seperti anak kecil yang sedang bermain

Lihatlah anak-anak kecil yang sedang bermain. Mereka tidak pernah takut untuk melakukan sesuatu. Mereka bermain dengan teman-temannya tanpa beban berat yang melingkupi hidupnya. Dunia bermain adalah dunia yang indah, di mana beban-beban disingkirkan. Pertanyaannya adalah, bisakah kita menyingkirkan beban-beban berat tersebut, sehingga kita bisa bermain layaknya anak-anak?

Di sinilah seni mengelola beban hidup. Jika kita sadar bahwa hidup ini cuma sekali, maka saatnya untuk menikmati hidup mulai sekarang. Sadari mulai sekarang bahwa hidup ini begitu indah untuk dirasakan. Begitu banyak nikmat yang bisa kita rasakan dibandingkan dengan kekurangan yang harus ditanggung.

Karena itu, jika ada kekurangan dalam diri kita, tidak usah takut untuk berbuat, karena masih banyak kelebihan yang diberikan kepada kita sehingga kelebihan tersebut jika digunakan secara maksimal akan mampu menutupi kekurangan yang kita punya.

Jangan lari dari kenyataan

Lari dari kenyataan adalah cara paling mudah yang biasanya dilakukan seseorang jika ia mendapatkan satu masalah atau persoalan. Namun yang perlu disadari, lari dari kenyataan tidak akan pernah menyelesaikan masalah, bahkan bisa menambah persoalan baru yang sebelumnya tidak terjadi.

Seorang pemuda yang mempunyai masalah karena kehidupan keluarganya berantakan misalnya, jika ia lari dari masalah tersebut dengan menggunakan narkotika dan obat-obat terlarang, alih-alih memecahkan masalah, maka hal tersebut bisa membawa permasalahan baru mulai dari kecanduan hingga kemungkinan masuk penjara karena ditangkap pihak berwajib.

Contoh lain adalah keluarga yang mendapatkan masalah karena kesulitan ekonomi. Jika mereka melarikan diri dari masalah dengan bunuh diri misalnya, maka persoalannya memang selesai, tetapi harus mengorbankan kehidupannya di dunia ini. Tentu bukan hal ini yang kita inginkan bersama.

Apapun permasalahan yang dihadapi seseorang, pasti mempunyai jalan keluar. Kuncinya hanya satu, hadapi masalah itu dan selesaikan. Jangan pernah lari dari masalah karena hanya akan menambah masalah baru yang tidak perlu.